• 31

    Jan

    Sepenggal Cerita Dari Mercusuar Anyer

    Masa SMA adalah masa yang paling indah, kata kebanyakan orang. Saya setuju. Bagi saya, salah satu faktor yang membuat masa SMA menjadi sangat indah adalah kehadiran sahabat-sahabat yang benar-benar sahabat. Salah satu dari sahabat saya di masa SMA adalah Isnaini.   Meski berbeda kota saat kuliah, saya dan Iis (Panggilan akrab Isnaini) tak pernah putus komunikasi. Kami sering bertukar cerita satu sama lain. Dari urusan tidak penting sampai urusan perempuan.   “Kamu enak, Zum. Kuliah di jurusan Ilmu komunikasi. Ceweknya cantik-cantik.” Ujar Iis via Line.   “Emang kenapa, Is?”   “Di jurusan saya, Elektronika dan Instrumentasi, jarang ada cewek cantik. Satu-satunya cewek yang deket sama saya sekarang aja mukanya mirip Limbad.”   Set
  • 30

    Jan

    Yura Yunita

    Saya punya semacam tradisi. Menjelang libur semester, saya selalu potong rambut. Sebenarnya tidak bisa dibilang potong juga, sih, karena hasilnya tidak terlalu mencolok. Lebih tepat jika disebut ‘merapihkan’ rambut.   Menjelang libur semester ini, niat potong rambut saya adalah biar mirip rocker-rocker di era 90an. Ambilah Eric Martin sebagai contoh.     Hal tersebut juga dilatarbelakangi oleh lelahnya saya karena sering diledek rambutnya mirip perempuan oleh beberapa teman. Selain itu, sudah kesal juga saya dengan poni yang sangat menghalangi pandangan. Saya pun memotong rambut dari ini:     Menjadi ini:     Niat hati ingin dibilang seperti rocker, eh seorang teman perempuan di kampus berkomentar “Potonganmu mirip Yura Yunita!”.
  • 29

    Nov

    Masak Sendiri Agar Lebih Sehat

    “Dit, mau keluar? Sebentar, deh, kita rapat dulu.”   Kalimat itu yang dikatakan Mas Johan sesaat setelah saya mengunci pintu kamar. Ada beberapa penghuni kos lain di samping kiri dan kanan Mas Johan. Penasaran, saya pun menuruti permintaannya.   “Gimana kalau kita pasang wi-fi?”   Belum sempat saya menjawab, Mas Johan kembali melanjutkan perkataannya.   “Aku, Wahyu sama Wafi rencananya mau pasang. Harganya 450 ribu perbulan. Kos kita kan ada 9 orang, jadi kalau ikut semua, kita sumbangan cuma 50 ribu. Gimana? Kamu mau ikut ga?”   Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan “Kamu mau aku cium gak?” yang terlontar dari mulut Raisa. Sudah jelas saya pasti mengiyakannya.   Saya benar-benar butuh internet, baik untuk
  • 29

    Jul

    Laba-laba Peretak Handphone

    Semenjak dibelikan handphone baru oleh Ayah, hidup saya berubah. Ya, gak keseluruhan hidup sih. Lebih tepatnya aktivitas saya dalam berkomunikasi dan memanfaatkan fitur multimedia untuk menyalurkan hobi. Ini adalah contoh video dan foto yang dihasilkannya:     Biasa saja sih memang, tapi biarkan sajalah. Yang penting bisa pamer. Huahahaha. Oke kembali ke tulisan. Dulu handphone saya lelet banget. Saking leletnya, ada line masuk saja suka gak muncul. Sangat merepotkan jika sedang ada pembicaraan penting dengan rekan. Pernah juga dulu diam-diam foto perempuan cantik di kelas. Sudah susah-susah mengambil gambar (diperlukan skill khusus untuk memfoto gadis cantik di tempat umum dan tidak ketahuan), eh ternyata kameranya error. Gak ke-save. Sabun saya jadi utuh deh malam itu. Mempu
  • 9

    May

    Nama

    Nama. Kata orang nama itu doa. Kalau bisa kembali ke masa lalu, saya akan kembali di saat saya dilahirkan dan membisikan ide nama (doa) yang keren ke orang tua: Pacarnya Chelsea Islan. Kan enak, kalau kenalan sama orang baru bisa sambil gaya “Kenalin, gue Pacarnya Chelsea Islan”. Meski aslinya sudah tiga windu menjomblo. Tapi kasian istri saya, sih, kalau ternyata doa itu tak pernah kesampaian (tidak pernah jadian sama Chelsea Islan). Misalkan saya menikah dengan seorang perempuan bernama Agnes. Terus saya dan Agnes sedang menghadiri sebuah acara. Di acara tersebut, Agnes bertemu dengan teman-teman lamanya, kemudian ia memperkenalkan saya kepada mereka. “Eh kenalin ini suami gue, Pacarnya Chelsea Islan.” Agnes pasti akan dicap sebagai perempuan perebut kekasih ora
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post


https://www.facebook.com/azzumar.adhitia.3