• 6

    Aug

    Puisi Ini Membosankan

    Kala bermain petak umpet Perasaanku adalah anak kecil bodoh yang tak tahu cara sembunyi Engkau selalu mampu menemukannya Sedangkan aku terlalu buta mencarimu   Mungkin mataku tidak buta, hanya bermasalah Pada malam hari, kulihat langit membentang menjadi kanvas tak bertepi Jutaan bintang melukiskan wajahmu Lalu aku berbaring memandangi itu Di dalam hati, aku berdoa agar pagi tak pernah tiba   Namun doaku tak terkabul Pagi tetap tiba Aku tetap mencintaimu Dan engkau pasti bosan membaca itu   Cilegon, 2016.
  • 22

    Jul

    Aku Tak Mau Tumbuh Dewasa

    Aku tak pernah benar-benar tumbuh dewasa. Aku terjebak pada tubuh pria berusia 21 tahun dan terus bertambah sepanjang hari sejak puisi ini ditulis pada pertengahan 2016.   Aku ingin selamanya menjadi anak kecil yang tertawa lepas mengejar dirimu, yang juga tertawa sambil berlari entah mengejar apa atau siapa. Senyum cantikmu adalah layang-layang putus. Langkah kakiku dan langkah kaki anak kampung sebelah berlomba menggapai itu.   Aku tak pernah benar-benar tumbuh dewasa. Aku akan selalu menjadi anak kecil yang bernyanyi di kamar mandi ketika ibu sibuk menyiapkan seragam sekolah. Di sekolah nanti, aku akan berusaha membuatmu terkesan dengan semua hal yang aku bisa. Meski nyatanya engkau tak pernah merasa terkesan. Tak seperti hatiku, yang sangat mudah bermekaran tiap kali engkau
  • 23

    Apr

    Secarik Kertas

    Kita pernah sama-sama menggoreskan pena di atas secarik kertas. Aku terus membentuk pola-pola yang hanya dimengerti oleh kita berdua, sedangkan kau tidak. Adakah kertas lain yang hendak kau gores dengan penamu? Aku terus melanjutkan goresan yang tidak kau selesaikan. Menulis namamu, namaku, juga menggambar kelinci peliharaanmu yang hilang itu. Mungkinkah kini kau telah menjelma menjadi kelinci itu? Di bagian belakang kertas aku menggambar sebuah rumah sederhana berwarna ungu. Warna yang sama dapat kau temui di pagarnya yang tidak terlalu tinggi. Di belakang rumah terdapat sepetak taman kecil tempat beberapa bunga berseri. Sesekali, tidakkah kau ingin berkunjung dan memetik beberapa tangkainya?   Malang, 2015.
  • 12

    Jan

    Akhir Adalah Sahabat Bagi Setiap Cerita

    Akhir adalah sahabat bagi setiap cerita, entah itu akhir bahagia atau akhir yang mengekalkan penyesalan. Aku sadar, aku tak bisa membenci sebuah akhir. Sebab tanpanya sebuah cerita tidak akan pernah terlahir. Aku tidak mempermasalahkan akhir dari setiap cerita yang kulalui. Aku hanya mempertanyakan apakah setiap karakter di dalamnya benar-benar hidup dalam cerita itu? Aku, sebagai karakter yang selalu hadir dalam semua cerita yang kutinggali, selalu menikmati setiap hal kecil di dalamnya. Sebab sesuatu yang kecil lah yang membuat sesuatu lainnya menjadi besar. Seperti lengkung kecil senyummu yang membuat senja pada hari Sabtu itu menjadi semakin cantik. Entahlah, mungkin cerita ini tak lebih seperti sebuah film yang membosankan. Di mana setiap orang, termasuk engkau, menikmatinya
  • 29

    Dec

    Perjalanan Dari Malang Menuju Jakarta

    Aku merasakan lagi perjalanan dari Malang menuju Jakarta Perjalanan yang selalu melahirkan pertanyaan “Kapan tiba?” dalam kepala Perjalanan membosankan dengan kereta tua yang lebih banyak kuhabiskan sambil memejamkan mata Aku suka membayangkan Malang dan Jakarta hanya berjarak sejauh bagianku dan bagianmu di tempat tidur kita Di mana aku bisa memelukmu setiap saat Menikmati aromamu yang masih sangat hangat Dan mencoba masuk ke dalam mimpimu sampai mata itu terbuka Atau Malang dan Jakarta hanya sedekat matamu dan buku yang sedang kau baca Meski aku selalu cemburu dengan buku itu Aku ingin menjadi kata demi kata yang memenuhi matamu Tak masalah pula jika aku menjadi kursi tua yang memangkumu tiap kali kau membaca di beranda Kalau bisa jarak itu lebih dekat lagi, sede
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post


https://www.facebook.com/azzumar.adhitia.3