• 7

    Jun

    Jagongan

    Malam selepas kelas. Langit berhias bintang menjadi atap acara Jagongan, acara ngobrol santai disertai alunan musik akustik dan seni tradisional yang diadakan oleh Himpunan mahasiswa jurusan. Menurut mereka, acara ini bertujuan untuk merekatkan kami sebagai satu jurusan. Aku sendiri di meja itu, di bagian paling belakang dari panggung. Pikiranku melaju melintasi waktu. Tiba-tiba saja aku teringat kejadian hari kemarin, saat aku dan Enggar pergi ke Pasar Hewan di daerah Pakis, Kabupaten Malang. Sore itu dosen tidak datang. Kelas pun dibubarkan. Enggar yang sudah lama ingin punya peliharaan lalu mengajakku untuk menemaninya ke Pasar Hewan. Motor yang kami tumpangi sudah jauh melaju meninggalkan kampus. Kini kami telah meninggalkan Kota Malang dan memasuki Kabupaten Malang. Enggar terlihat m
  • 17

    Mar

    Tamu Tak Diundang

    Suasana kelas sudah sangat garing. Hampir seluruh mahasiswa kehilangan fokus dengan apa yang disampaikan dosen. Jam sudah menunjukan pukul 17.00 WIB, sebagian mahasiswa sudah kuliah dari pagi. Jelas, ini adalah kondisi yang sangat menjemukan. Kondisi yang sangat menjemukan itu bisa berubah menjadi lumayan menyenangkan saat dosen berkata “Ada pertanyaan? Kalau tidak ada kelas saya akhiri sampai di sini”. Namun, hal itu bisa langsung berubah menjadi momen yang sangat kampret saat tiba-tiba ada satu mahasiswa yang mengacungkan tangan. Bertanya, kemudian mendebat dosen di menit akhir perkuliahan. Sehingga membuat jam pulang semakin mundur. Emosi yang kami, sebagian besar mahasiswa, rasakan bisa dijelaskan melalui gambar ini: Hal menjemukan lainnya yang saya alami di semester in
  • 21

    Apr

    Cerita Horor

    Ada yang percaya politik itu adalah hal yang paling busuk, ada yang percaya politik itu suci. Ada yang percaya cinta itu harus dimiliki, ada juga yang percaya cinta itu cukup dirasakan. Ada yang percaya untuk hidup sukses itu kita harus kuliah, ada juga yang percaya tidak perlu kulliah. Semua sah-sah saja. Bagi gue mempercayai sesuatu hal adalah hak semua orang. Masyarakat kita banyak yang percaya hal-hal mistis, ada juga yang tidak percaya. Sama seperti paragraf sebelumnya, semua sah saja. Gue sendiri percaya pada hal mistis. Karena Tuhan juga menciptakan makhluk halus. Sama seperti gue, Gina juga percaya pada hal ini. Bahkan dia punya cukup banyak pengalaman dengan dunia itu. Hari itu gue ada kuliah malam. Sembari menunggu dosen yang belum datang, gue menghampiri Vina, Afit, Cucun, Febi
  • 1

    Jun

    Someday, I'll Make You Proud Again, Mom!

    Sewaktu gue kelas 8 SMP, Mama gembira betul mendengar kakak gue diterima di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (UB). Mama tidak menyangka kakak gue yang di sekolahnya bandel, bisa masuk salah satu perguruan tinggi favorit di Indonesia itu. Tahun itu juga gue sekeluarga ke Malang, untuk mengantar kakak gue pindahan. Saat itu, gue takjub dengan UB dan Malang. UB kampusnya megah, dan Malang kota yang tenang. Dingin pula. Gue pun bertekad suatu saat nanti akan menjadi mahasiswa UB. Setahun kemudian gue lulus dari SMPN 1 Cilegon. Sayangnya, nasib gue tak seberuntung kakak gue. Gue ditolak di 2 SMA tujuan gue, SMAN 1 Cilegon dan SMAN 2 KS Cilegon. Yang gue salahkan adalah diri gue sendiri. Mengapa gue lebih malas dan lebih bego dari teman-teman yang lain. Mama pun tampak kece
  • 24

    Jan

    Bantuan Itu Datang Tidak Tepat Waktu

    1. Tiba-tiba gue teringat dengan ulangan bahasa Jepang siang tadi. Bolehkah orang ganteng ini bercerita? Pasti boleh. 2. Jepang adalah negara yang cantik. Banyak hal yg gue suka dari Jepang, terutama ceweknya. Tapi, ada 1 hal yang gue benci dari Jepang: ulangan bahasa Jepang. 3. Siang tadi ada ulangan bahasa Jepang. Malam sebelumnya gue hanya bbm-an dengan cewek-cewek. Dan ketika kertas soal dibagikan, gue istigfar. 4. Soal ulangannya susah sekali. Ditambah, guru mengawasi dengan sangat ketat. Gue badmood. Gue malah menggambar gunung, bukan mengerjakan soal. 5. Gue melihat sekeliling kelas, wajah-wajah siswa tampak depresi. Lalu gue melihat foto SBY. Fotonya seakan berkata, “Saya prihatin”. 6. Satu jam berlalu dan kertas jawaban gue masih kosong. Gue depresi. Gue takut t
-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


https://www.facebook.com/azzumar.adhitia.3