Sepenggal Cerita Dari Mercusuar Anyer

31 Jan 2016

Masa SMA adalah masa yang paling indah, kata kebanyakan orang. Saya setuju. Bagi saya, salah satu faktor yang membuat masa SMA menjadi sangat indah adalah kehadiran sahabat-sahabat yang benar-benar sahabat. Salah satu dari sahabat saya di masa SMA adalah Isnaini.

 

Meski berbeda kota saat kuliah, saya dan Iis (Panggilan akrab Isnaini) tak pernah putus komunikasi. Kami sering bertukar cerita satu sama lain. Dari urusan tidak penting sampai urusan perempuan.

 

“Kamu enak, Zum. Kuliah di jurusan Ilmu komunikasi. Ceweknya cantik-cantik.” Ujar Iis via Line.

 

“Emang kenapa, Is?”

 

“Di jurusan saya, Elektronika dan Instrumentasi, jarang ada cewek cantik. Satu-satunya cewek yang deket sama saya sekarang aja mukanya mirip Limbad.”

 

Setelah curhat tentang perempuan-perempuan di kampus masing-masing, kami pun membuat rencana untuk berkunjung ke sekolah saat liburan nanti. Untuk melepas rindu dengan suasana SMA, guru-guru, serta makanan kantin.

 

Rencana tersebut akhirnya terealisasi. Saya dan Iis kini sudah berada di sekolah. Di gerbang sekolah, kami disambut oleh Pak Alam, guru olahraga yang juga guru paling ganteng di sekolah. Saking gantengnya, bahkan sampai pernah ada yang membuat meme ia mirip Adam Levine.

 

 

“Eh Zumar! Lagi libur nih?” Sapa guru ganteng itu melihat kedatangan kami “Tapi bapak lupa sama temen kamu ini, siapa namanya?”

 

“Isnaini, Pak.” Jawab Isnaini

 

“Oh iya. Banyak sih muridnya. Tiap tahun ada ratusan. Mungkin kalau dijumlah dari bapak pertama ngajar, udah ribuan kali murid yang bapak ajar. Jadi maklum kalau bapak gak ingat.”

 

“Kok bapak masih ingat saya?” tanya saya, penasaran.

 

“Oh iya dong inget!” jawab Pak Alam penuh semangat

 

Mendengar itu, saya bangga sekaligus terharu. Bagaimana tidak, sudah banyak murid yang diajar olehnya, tapi Pak Alam masih ingat dengan saya. Namun, rasa bangga dan haru itu sirna sesaat setelah Pak Alam melanjutkan kalimatnya.

 

“Bapak itu pasti inget sama murid kalo anaknya aneh. Aneh itu macem-macem. Dari namanya aneh, mukanya aneh, sampe kelakuannya aneh.”

 

Entah hari itu adalah hari sial saya atau apa, namun bukan hanya Pak Alam yang “membully” saya hari itu. Bu Esti juga ikut-ikutan. Beliau adalah guru Ekonomi saya.

 

“Ih rambutnya gondrong. Jelek ah kamu.”

 

Itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Bu Esti sesaat setelah saya mencium tangannya.

 

“Lah, jelek apanya, Bu?!” saya tidak terima

 

“Jelek. Kayak perempuan.”

 

“Lah, si Iis juga kan gondrong tuh, Bu.”

 

“Iya. Tapi dia keliatan jantan. Kalo kamu mah gesture-nya juga udah kayak cewek.”

 

“Ini mah emang sayanya yang klemer-klemer aja, Bu. Bukan karena saya bencong.”

 

“Hahaha… ya sudah, gimana kuliahmu? Berapa IPK-nya” akhirnya Bu Esti mengganti topik juga.

 

“Alhamdulillah, Bu. IPK 3,7. Huahahaha.” Tuhan Maha Baik, setelah dibully habis-habisan di topik sebelumnya, di topik ini akhirnya saya bisa berbangga diri.

 

“Wah bagus, bagus. Udah skripsi nih?”

 

“Belum, Bu. Tapi udah melakukan beberapa penelitian, sih. Penelitian terakhir saya tentang gay.”

 

“Wah pas tuh!”

 

“Pas gimana, Bu?”

 

“Ya pas, kamu kan kayak gay.”

 

Harusnya saya tak perlu menceritakan penelitian itu ke Bu Esti.

***

 

Selesai kunjungan ke sekolah, saya dan Iis melanjutkan perjalanan ke rumah Urfan. Namun karena di sana bosan tidak melakukan apa-apa (selain makan bakpia), akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pantai.

 

Pantai yang menjadi tujuan kami adalah Titik Nol Km atau yang lebih popular disebut Menara Mercusuar Anyer. Di sana, rencananya kami mau naik ke puncak mercusuar dan foto-foto. Tapi rencana tinggalah rencana. Sesampainya di sana, mercusuarnya ditutup. Kami tidak boleh naik.

 

“Sudah sore, Mas. Gerimis juga.” Ujar sang penjaga.

 

Alhasil, kami pun hanya duduk-duduk di pantai. Melihat alay-alay foto-foto dan sepasang kekasih sedang bermesraan.

 

 

Karena tidak mau pulang dengan tangan kosong, kami pun memutuskan untuk foto-foto. Bedanya dengan alay-alay yang saya sebut tadi, kami tidak manyun-manyun.

 Saya dan Iis. Pemuda yang mengaku masiih perjaka.

 

Selain foto-foto, kami juga membuat sebuah video.


 

 

Semakin bingung mau melakukan apa lagi, kami memutuskan pulang. Sesampainya di rumah, saya teringat dengan Syahra. Ia pernah bilang kalau ia sangat ingin pergi ke pantai. Saya pun mengirim chat untuknya keesokan hari.


 

 

Mendapat kesempatan untuk menggombal, saya pun mengeluarkan kata-kata pamungkas.

 

 

Sialnya, kata-kata pamungkas itu tidak mempan untuknya.


TAGS komedi nonfiksi pengalaman perjalanan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


https://www.facebook.com/azzumar.adhitia.3