Masak Sendiri Agar Lebih Sehat

29 Nov 2015

“Dit, mau keluar? Sebentar, deh, kita rapat dulu.”

 

Kalimat itu yang dikatakan Mas Johan sesaat setelah saya mengunci pintu kamar. Ada beberapa penghuni kos lain di samping kiri dan kanan Mas Johan. Penasaran, saya pun menuruti permintaannya.

 

“Gimana kalau kita pasang wi-fi?”

 

Belum sempat saya menjawab, Mas Johan kembali melanjutkan perkataannya.

 

“Aku, Wahyu sama Wafi rencananya mau pasang. Harganya 450 ribu perbulan. Kos kita kan ada 9 orang, jadi kalau ikut semua, kita sumbangan cuma 50 ribu. Gimana? Kamu mau ikut ga?”

 

Pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan “Kamu mau aku cium gak?” yang terlontar dari mulut Raisa. Sudah jelas saya pasti mengiyakannya.

 

Saya benar-benar butuh internet, baik untuk mencari materi perkuliahan, berkomunikasi, memposting tulisan, maupun melakukan hal lain. Selama ini saya pakai paket data untuk ponsel dan modem USB untuk laptop. Harga paketannya yang cukup mahal (bagi anak kos) serta tidak sebanding dengan kecepatan dan kuotanya membuat saya cukup tersiksa. Dengan adanya wifi, nampaknya hal tersebut tidak akan mengganggu lagi.

 

Rencana memasang wifi ini berhasil menyatukan seluruh penghuni kos dalam rumah ini. Kami yang awalnya individual kini mulai membuka diri satu sama lain. Kebersamaan ini pula yang membuat kami kompak meminta satu hal ke bapak kos agar kos ini semakin lengkap: kulkas.

 

Permintaan kami dikabulkan. Sebuah kulkas berukuran sedang kini hadir di antara kami. Meski kulkas itu adalah kulkas bekas yang tak lagi terpakai di rumah mertua bapak kos, namun ya sudahlah. Syukuri saja. Kehadiran kulkas juga memunculkan tren baru di dalam kos: memasak.

 

“Enak nih ada kulkas. Bisa nyimpen daging, sayur, dan lain-lain. Kenanya jadi lebih hemat.” ujar Mas Wahyu kepada saya sambil menuangkan minyak ke dalam wajan.

 

Ucapan Mas Wahyu membuat saya berpikir. Benar juga apa yang ia ungkapkan. Dengan memasak, saya bisa lebih menghemat pengeluaran. Sehingga saya bisa menabung lebih banyak lagi. Selain itu, memasak sendiri juga lebih sehat jika dibandingkan dengan beli makanan di luar. Keesokan harinya, saya langsung pergi ke supermarket.

 

Karena tidak bisa memasak, saya pun hanya membeli nugget. Alhasil, selama kurang lebih satu minggu menu makanan saya hanya itu. Baik makan siang maupun malam (saya tidak sarapan). Nugget bukan dia yang dapat membuat saya jatuh cinta berkali-kali. Saya pun bosan juga pada akhirnya.

 

Oleh Mama saya disarankan memasak tempe. Memasak tempe itu mudah, kata Mama. Saya hanya perlu memasukannya ke adonan tepung, lalu goreng. Tunggu sampai matang, kemudian selesai.

 

Mendengar penjelasan yang cukup mudah itu, keesokan harinya saya langsung membeli tempe dan tepung kemudian menggorengnya sepulang kuliah. Hasilnya selain lantai kotor akibat adonan tepung yang “muncrat” ke mana-mana, tempenya juga gosong.

 

Belum menyerah, hari kedua saya kembali memasak tempe. Hasilnya tetap gosong. Belajar dari kegagalan hari-hari sebelumnya, hari ketiga saya kembali masak tempe. Dan berhasil! Tempenya tidak gosong. Rasanya juga cukup enak. Gurih-gurih gimana, gitu.

 

Keberhasilan tersebut membuat saya mencintai memasak makanan sendiri. Lebih hemat juga lebih sehat.

 

Waktu kini telah memasuki jam makan malam. Saya sudah siap mengulang kesuksesan memasak yang saya lakukan beberapa jam lalu. Dengan penuh percaya diri saya berjalan mendekati kompor. Di sana, rupanya sudah ada Mas Johan dan Mas Wahyu.

 

Mereka tidak memasak. Mereka hanya berbincang di sekitar dapur. Pandangan dan perhatian mereka pun tercuri oleh kedatangan saya.

 

“Eh, Dit, kata si Dimas tadi siang sekitar pukul 11 ada tikus di wajan. Kamu yang terakhir pakai wajan, ya?” tanya Mas Wahyu pada saya.

 

“Hah? Engga ah, Mas. Aku kan baru pakai wajan siang tadi pukul 12.”

 

“Lah iya. Berarti terakhir kamu, kan, yang pakai?”

 

“Ya enggaklah. Aku kan pakai wajan jam 12. Kemarin malam aku pakai, sih. Cuma habis itu langsung aku bersihin. Jadi bukan aku yang ninggalin wajan dalam keadaan kotor dan bikin tikus itu ada di wajan.”

 

“Aku gak nuduh tikusnya bisa ada di wajan gara-gara kamu gak bersihin setelah masak kok, Dit. Aku cuma nanya berarti kamu yang terakhir masak setelah si tikus ini ada di wajan, kan? Soalnya tikus kan pukul 11, kamu pukul 12.”

 

“Eeeee…. iya.”

 

“Ngerti, kan, maksudku apa?”

 

Belum saya menjawab, Mas Wahyu kembali berkata.

 

“Berarti tadi siang kamu masak di wajan bekas tikus”

 

“Tikus itu banyak penyakitnya lho, Dit. Dia kan hidupnya jorok banget.” timpal Mas Johan

 

Sama seperti apa yang dilakukan Mas Wahyu, Mas Johan juga kembali bersuara sebelum saya sempat merespon.

 

“Dan penyakit yang dibawa tikus itu bisa bikin mati!”

 

“Bener, Dit!” sahut Mas Wahyu

 

“Kalau udah ngerasa mual-mual gitu mending kamu langsung ke dokter aja, ya” ungkap Mas Johan penuh dengan perhatian. Membuat saya berpikir “Jangan-jangan cita rasa ‘gurih-gurih gimana gitu’ dari tempe yang terakhir saya masak itu karena efek pakai wajan bekas tikus?”.

 

Nasib. Sekalinya berhasil memasak tempe dengan sempurna, eh ternyata wajan yang dipakai bekas tikus. Padahal, salah satu tujuan saya memasak adalah biar lebih sehat.


TAGS komedi personal nonfiksi


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


https://www.facebook.com/azzumar.adhitia.3