Jagongan

7 Jun 2015

Malam selepas kelas. Langit berhias bintang menjadi atap acara Jagongan, acara ngobrol santai disertai alunan musik akustik dan seni tradisional yang diadakan oleh Himpunan mahasiswa jurusan. Menurut mereka, acara ini bertujuan untuk merekatkan kami sebagai satu jurusan.

Aku sendiri di meja itu, di bagian paling belakang dari panggung. Pikiranku melaju melintasi waktu. Tiba-tiba saja aku teringat kejadian hari kemarin, saat aku dan Enggar pergi ke Pasar Hewan di daerah Pakis, Kabupaten Malang.

Sore itu dosen tidak datang. Kelas pun dibubarkan. Enggar yang sudah lama ingin punya peliharaan lalu mengajakku untuk menemaninya ke Pasar Hewan.

Motor yang kami tumpangi sudah jauh melaju meninggalkan kampus. Kini kami telah meninggalkan Kota Malang dan memasuki Kabupaten Malang. Enggar terlihat menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan, menandakan ia sedang mencari tempat yang dituju, atau bisa juga menandakan bahwa ia bingung dan mulaiberpikir bahwa ia telah membuat kami nyasar.

“Gar, kita udah jalan jauh ini. Pasar Hewan-nya di mana, sih?” tanyaku kepada kawan dari Jember ini

“Harusnya, sih, di sekitar sini, Dit.”

“Harusnya? Sebenernya kamu tau gak sih tempatnya di mana?”

“Enggak,” jawabnya polos

Sudah jalan jauh-jauh ternyata tidak tahu tempatnya. Hampir sama seperti agen MLM yang menjanjikan orang lain cepat kaya tapi beli panci saja masih kredit.

Teringat pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’, kami pun bertanya ke seorang bapak penambal ban di pinggir jalan.

“Permisi, Pak. Pasar Hewan di mana ya?” Tanya saya pada bapak itu

P”asar Hewan? Pasar Burung kali maksud sampeyan. Sampeyan dari mana?”

“Dari kota, Pak”

“Pasar Burung itu adanya di kota. Deket Splendid. Kalo di sini adanya Pasar Hewan.”

“Lah yang saya tanyain tadi kan emang Pasar Hewan, Pak!”

Si bapak hanya diam. Seakan tak berdosa.

“Jadi, Pasar Hewan-nya di mana ya, Pak?” Enggar pun mulai bersuara

“Sampeyan nanti lurus aja. Masih lumayan jauh sih dari sini. Pokoknya lurus aja, nanti abis jembatan kelihatan kok.”

“Jadi sekarang kami tinggal lurus aja sampe ketemu jembatan nih, Pak?”

“Iya”

“Oke, makasih Pak. Masih buka kan sekarang?”

“Udah tutup dari siang, Mas.”

Dear bapak, KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI?!!!!

Sepertinya minggu ini aku ditakdirkan untuk berhubungan dengan beberapa orang yang kurang konsentrasi. Sehari sebelum berinteraksi dengan bapak tadi, aku mempunyai pengalaman dengan seorang pelayan di sebuah warung.

Saat itu, entah mengapa aku menjadi seorang yang sangat mudah terpengaruh iklan. Aku baru saja menyalakan televisi, dan munculah iklan sebuah mie instan kuah. Aku terpengaruh iklan itu. Seketika televisi pun kumatikan lalu aku bergegas pergi ke warung terdekat. Mengingat aku yang sedang mudah terpengaruh iklan, untung saja iklan yang tadi kulihat bukan iklan KB.

Di warung, aku memesan mie kuah, sama seperti yang kulihat di iklan. Aku menunggu beberapa menit dan pesananku sudah ada di meja. Tapi, itu bukan mie yang aku mau. Mie tersebut adalah mie goreng. Aku mau mie kuah!

Aku berjalan ke dapur untuk komplain ke pelayannya.

“Mas, saya kan tadi mesen mie kuah, bukan mie goreng”

“Oh yaudah, Mas. Tinggal tambahin air kan jadi mie kuah tuh,” jawabnya dengan santai sambil menambahkan air panas ke mangkuk mie gorengku.

Pesan mie kuah tapi dikasihnya mie goreng. Di situ kadang saya merasa mas-masnya kebanyakan makan mecin.

Malam semakin larut dan acara Jagongan ini semakin ramai. Pikiranku sudah kembali dari petualangan waktunya. Aku melihat sekeliling. Hampir semua orang berpasangan di acara ini. Sedangkan aku sendiri di sini, di meja paling belakang. Hal itu membuat aku teringat dengan kompetisi yang aku buat dengan Enggar dan Satria setahun lalu.

Setahun lalu, kami membuat kompetisi untuk mendapatkan pacar sebelum wisuda. Hal tersebut bertujuan agar foto kelulusan kami tidak seperti foto kelulusan anak sekolah: hanya bersama orang tua. Tapi bisa sama pacar juga. Satria kini sudah punya pacar. Tersisa aku dan Enggar yang belum laku. Aku tidak boleh menjadi pihak yang kalah dalam kompetisi ini!

Acara ini bisa nih dijadikan ajang buat mencari gebetan, pikirku. Mataku pun mulai menjelajah, mencari sosok perempuan. Di meja depan, duduk seorang teman perempuan yang sebut saja bernama Melati. Ia duduk bersama dua temannya yang tidak kukenal. Aku menghampiri Melati sembari membawa segelas minuman yang baru seperempat kuminum. Sesampainya di sana, aku berkata kepadanya dengan sangat lembut,

“Melati, bulan malam ini cantik ya….”

Melati tersenyum dan merespon

“Iya”

Aku pun menyelesaikan gombalanku

“…..ga kayak kamu”.

Setelah itu, Melati mengusirku dari meja.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


https://www.facebook.com/azzumar.adhitia.3